Senin, 28 Januari 2013

Diperkosa Ayahku Sendiri

Namaku Teguh. Baru saja aku pulang dari makan-makan bersama teman-teman SMP merayakan

ulang tahunku yang ke 25. Tiba-tiba teringat satu kisah. Ini ceritaku dan

terjadi sepuluh tahun yang lampau. Waktu itu aku masih bocah yang ingin tahu

segalanya.

 

 

Ibuku adalah pengurus dharma wanita yang sibuk ditambah sebagai pejabat di

beberapa yayasan. Ayahku adalah ayah tiri yang menikahi Ibu saat aku berumur 5

tahun. Aku memanggilnya Papa. Ayahku orang yang ganteng dan berwibawa. Meskipun

dengan Ibu tidak memiliki keturunan, namun beliau tidak menceraikan Ibu. Sadar

diri kalau dia yang mandul. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakakku wanita

semua dan pada saat itu kakakku sudah tidak tinggal di rumah. Dua orang sudah

menikah sedang kakakku tepat di atas sedang kuliah di Jawa.

 

 

Menjadi anak tunggal di rumah ada enak dan tidak. Ayahku sangat sayang dan

memanjakanku. Kalau dia mendapat rejeki dia selalu membelikan apa saja yang

kuminta. Aku mendapat TV dan VCD di kamarku sendiri. Justru ibu kandungku yang

sering protes. Memang efeknya aku jadi jarang belajar dan agak bandel. Meskipun

demikian ibuku tidak bisa berkutik karena tiap semester aku selalu berada dalam

10 besar terbaik meskipun bukan yang nomer 1.

 

 

Aku sering mendapat pinjaman VCD bokep dari teman-teman SMP kadang bahkan anak

SMA kenalanku.  Aku menonton di komputer di kamarku. Alasanku lebih mudah

diklik dan aman. Orangtuaku jarang  di rumah.

 

 

Namun hari itu aku benar-benar ceroboh atau mungkin sial. Hari itu aku

tidak  menonton bokep di komputer tetapi di VCD. Aku ingin gambar yang

lebih lebar, pikirku.

 

 

"AlGuh!!" tiba-tiba ayahku sudah di dalam.

 

 

Mati aku! Kok bisa masuk? Padahal... ah aku lupa mengunci pintu. Untung saja

aku tidak sedang onani. Tapi tetap saja gambar orang yang sedang bersanggama

tidak bisa hilang sekali klik. Mana remote entah kemana lagi... Aku panik. Aku

tidak cepat menemukan remotku.

 

 

"Sudah, sudah. Kalau mau nonton ya nonton saja. Kamu kan sudah

besar..."

 

 

Aku masih menduga-duga kemana keinginan Ayah. Walau Ayah sangat memanjakan dan

tak pernah marah namun ini mungkin akan lain.

 

 

Ayah masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia duduk di kasurku dan ikut

menonton. Ayah diam akupun diam. Terkadang aku melirik mata ayah yang seakan

sedang menonton film biasa. Kucoba tenang seperti Ayah. Namun aku tetap saja

tidak tenang karena ada Ayah waktu itu. Setelah beberapa lama kami dalam diam,

aku merasa bosan dan makin gelisah saja.

 

 

"Guh, kamu tahu tidak, kontol Papa lebih besar dari itu..."

katanya dengan muka serius.

 

 

Aku memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru saja kudengar. Aktor

porno yang di VCD sebesar kontolku 17 cm 4 cm. Aku sudah bangga karena di

antara teman-temanku, kontolku tampak paling besar. Aku sering sombong bahwa

ukuran kontol menentukan kepandaian. Tentu saja itu sangat tidak berdasar.

 

 

"Owh ya?" kataku asal saja tidak tertarik.

 

 

Aku sama sekali tidak melirik ke gundukan di selakangan. Aku lebih tertarik

milik wanita. Ayah membiarkanku mengira-ngira dan tampaknya memang besar. Kontol

Ayah kandungku juga pasti besar buktinya aku keturunannya. Ayah tiriku tidak

ada pertalian keluarga dengan almarhum ayah. Tetapi entah bagaimana Ibu begitu

beruntung selalu mendapat pria dengan kemaluan yang besar. Ah pemikiranku

terlalu jauh sampai ke asal-usulku.

 

 

Waktu itu aku yakin aku normal. Aku lebih suka menonton payudara dan vagina

yang memerah. Aku suka lihat lekuk tubuh perempuan. Sekarang pun begitu. Namun

peristiwa berikut ini telah mengubahku. Mengubah hidupku.

 

 

Wajah Ayah tiba-tiba mendekat lalu mencium pipiku. Kurasakan pipinya yang kasar

dan aroma foam bercukur yang begitu maskulin. Bukan ciuman singkat tapi lebih

ke .... ah aku tidak mengerti cara untuk menggambarkannya. Dia memelukku dengan

erat dengan lengan yang kekar dan bisep yang menonjol. Aku meronta minta

dilepas.

 

 

Meski sewaktu kecil Ayah tiriku sering memeluk dan memangkuku namun aku tidak

suka dipeluk sekarang. Aku sudah besar bukan anak kecil lagi. Pelukannya juga

lain. Nafasnya mendengus dan agak memaksa. Aku meronta namun apa daya badan

kekar Ayah menelikungku sehingga aku yang kurus ini tak bergerak. Ayah semakin

bernafsu dia menyedot dan mengulumi bibirku. Rasanya manis terasa nikotin

Ayahku di mulutku.

 

 

"Papa jangan. Jangan yo..." pintaku sambil terus meronta.

 

 

Entah bagaimana aku sudah telanjang bulat. Bahkan dengan badan yang masih

ditindih begitu.  Kontolku yang sedari tadi menegang karena rangsangan

video bokep menjadi lemas.  Namun Ayah tidak peduli dan tetap menciumi

tubuhku. Menjilati leherku. Bahkan menggigit putingku.

 

 

Aku terus meronta sampai berkeringat. Rasa takut mulai menjalariku. Rambutku

basah. Matakupun terasa mulai basah. Aku merasa sangat benci dengan Ayah. Aku

sangat jijik dengan ciuman-ciuman itu. Geli saja rasanya.

 

 

"Jangan ya Papa...." antara takut tetapi mulai penasaran.

 

 

Ayah membuka resleting dan memelorotkan celana. Segera tampaklah kontol Ayah

yang superbesar  itu. Suatu kali di lain waktu aku pernah mengukurnya, 20

cm panjang dan hampir 4,5 cm tebal nya. Aku kalah besar. Di sekitar kontolnya

tampak rambut yang lebat.

 

 

"Aaahhh..." Ayahku melenguh pelan dan tersenyum tampak menikmati.

 

 

Kini badan Ayah yang kekar menindihku. Badan Ayah berotot dan perutnya sixpack.

Dia memang rajin ke gym dan renang. Di perutku terasa kontolnya yang keras mengganjal

digesekkan dengan keras. Aku merasa takut dengan yang Ayah akan

lakukan.Tiba-tiba saja ayah mulai mengelusi  badanku. Pungggungku, dadaku,

lalu pantatku. Aku tidak menyangka sama sekali kalau ayah  menginginkan

menusuk aku. Duh!

 

 

Aku mengalihkan badanku menjauh dari jangkauan Ayah. Terutama anusku yang dia

inginkan. Aku membalik badanku dan menutupi kontolku dan mataku. Aku merasa

malu melihat Ayahku telanjang bulat begitu di depanku. Dia menciumi bibirku.

Lidahnya mencoba menerobos deretan gigiku. Ludahnya terasa membasahi

bibirku.  Aku merasa sesuatu yang enak tapi sama sekali tak terpikir

olehku untuk merespon.

 

 

Nafas Ayah mendengus-dengus keras tanda nafsunya sudah terbakar. Dia menciumiku

berkali-kali lalu berbalik menindihku. Dia memegang kedua lenganku lalu

menggosok-gosokkan kontolnya ke kontolku. Entah mengapa kontolku menegang lagi.

Namun tak lama Ayah merobah posisinya jadi agak berdiri. Lalu turun ke lubang

kontolku.

 

 

"Pa'ceeeekk.. jangan. Tolong..." kataku meronta tapi tidak menjerit.

 

 

Terus terang tiba-tiba aku menjadi ketakutan. Aku tidak mau jadi wanita yang

disanggama. Aku kan bukan wanita. Tetapi di pihak lain aku tak mampu melawan

tubuh Ayah yang kekar. Tubuhku yang kerempeng begini tak sanggup melawan

cengkeraman Ayah. Di sisi lain aku juga bertambah penasaran apakah nikmatnya

kontol sehingga wanita di vcd itu mengerang-erang keenakan.

 

 

Aku mulai merasakan ada suatu benda keras menusuk anusku perlahan.

 

 

"Aa Papa jangan lakukan ...yaahhh..."

 

 

"Sudah kamu menurut saja Guh... " Ayah meludah lalu membasahi ujung

kontolnya dan lubang anusku.

 

 

Ayah menusukkan kontolnya ke tubuhku kembali. Aku mengejan memaksa menutup

lubangku. Namun  desakan kontol Ayah tak dapat kulawan. Benda keras itu

sangat memaksa menembus masuk ke tubuhku. Tubuhku bergetar namun menjadi

pasrah. Air mataku mengalir entah mengapa. Bahagia atau sedih atau kecewa aku

tak mengerti. Seakan setengah nyawaku melayang dari tubuhku dan aku menjadi

rileks. Bukan pingsan hanya begitu pasrah. Kurasakan ada yang mengganjal di

anusku.

 

 

[Sebagian pembaca mungkin akan menanyakan mengapa aku tidak meronta dan

melakukan perlawanan dengan keras. Aku sudah mencobanya dengan melarang Ayah.

Namun aku yang tahu sifat Ayah dan ada sebagian peristiwa yang tak akan

kuceritakan, yang membuat aku tak melawan. Tambah lagi ada rasa penasaran yang

membuatku tak menyakiti Ayah. Aku tak menyesalinya. Pembaca akan tahu kalau

mengikuti ceritaku]

 

 

Sementara Ayah bergerak-gerak di atas tubuhku. Kesadaranku benar-benar turun.

Aku menjadi setengah sadar. Aku tak merasa apapun di sana. Sebelum tak sadar

aku merasa ada gempa bumi hebat di kamarku.

 

 

"Ohh asssshhhhh..." Ayah mengkspresikan nikmatnya.

 

 

Ayah benar-benar dikuasai nafsu waktu itu. Aku menjadi sangat jijik sekaligus

terpenuhi rasa dipuaskan rinduku. Aku sangat kesal dan sangat ternoda.

 

 

"Ooooaaahhhh.... " lenguh ayah dan rambut kemaluannya tepat ada di

kemaluanku yang lunglai.

 

 

Aku tau kontol Ayah memasuki anusku tapi setelah beberapa waktu aku baru sadar

kalau sedalam itu ayah sudah memasukiku. Ayah menciumiku lagi. Badannya yang

kekar berkilat karena keringat.

 

 

Sementara di layar televisi sudah masuk adegan berikutnya. Aku kapok dan tak

tertarik lagi dengan tayangan bokep itu.

 

 

Ayah mencabut kontolnya. Sesuatu yang kosong dan pegal aku rasakan di sana. Di

bawah sana tepat di anusku. Pegal dan perih. Aku lihat ke sana ada darah

mengalir di pahaku.

 

 

"Pa'ceeek sakit...."

 

 

Ayahku mengambil air hangat setelah mengenakan celananya. lalu dia membersihkan

luka di anusku dengan penuh kasih sayang. Dia mengenakan kembali celana

pendekku lalu menidurkan aku di kasurku. Persis seperti yang dia lakukan waktu

aku masih kecil.

 

 

"Maafkan Papa, Guh. Papa khilaf!" ujarnya sambil mencium

keningku. Tetes airmata yang panas jatuh di keningku.

 

 

Ayah berdiri mendekat ke televisi lalu mengambil keping vcdku. Ayah keluar

kamar lalu  menutup pintu kamarku.

 

 

Aku merasa lelah dan sakit baik secara fisik maupun psikologis. Aku tertidur

dan baru terbangun malam saat Ayah memberikan obat untuk diminum dan satu obat

ambien yang disumpalkan  pada lubang anusku. Semua berlangsung tanpa

kata-kata. Walau masih benci tapi aku tahu kalau Ayahku tidak berniat

menyiksaku apalagi menyakitiku. Aku tahu ada sesal yang dalam di wajahnya.

 

 

Keesokan paginya aku tidak berangkat sekolah. Ayah sempat berdebat dengan ibuku

yang mengatakan kalau aku baik-baik saja. Sedang Ayah bersikeras kalau aku

sedikit demam. Akhirnya Ayah memenangkan perdebatan dan aku diijinkan tidak

sekolah hari ini. Ah, apa kata dunia kalau aku sekolah dengan jalan seperti

anak habis disunat? Akan banyak pertanyaan. Bisa sih aku beralasan kena bisul

di pantat atau di selakangan. Ah, tetapi tidur di rumah seperti saran Ayah

lebih enak dan nyaman.

 

 

Hari itu aku merasa jenuh alias bete bin sebete-betenya. Ayah pergi karena ada

urusan. Keping VCD disita. TV membosankan acaranya. Tidur bosan. Di rumah

sendiri, baru setelah  makan siang nanti Ayah kembali. Sedang Ibu mungkin

sampai malam karena harus kunjungan keluar daerah.

 

 

Dengan langkah yang masih tertatih-tatih dan terkangkang-kangkang aku mencoba

mencari  makanan di meja makan atau kulkas. Jalan ke belakang dan depan.

Lalu terbersit ide mencari VCDku yang disita ayah kemarin. Aku tahu kunci kamar

ayah dan ibu.

 

 

Tak perlu lama aku mencari-cari. Aku menemukan laci penyimpanan kondom. Aku

mengambilnya satu. Aku ingin mencobanya. Aku mencari di kolong lalu mencoba

membuka lemari pakaian. Namun tidak kutemukan VCD itu. Sekilas aku melihat ada

bayangan pantulan plastik di atas lemari pakaian. Aku mengambil bangku dan

menaikinya.

 

 

Ini dia!

 

 

Bukan cuma satu yang aku temukan. Sepuluh keping vcd termasuk milikku salah

satu yang disita Ayah kemarin. Kuambil semua dan aku mau coba semua sebelum

Ayahku kembali nanti. Segera saja adegan sanggama berbagai versi melintasi

mataku masuk ke otakku. Koleksi ayah lengkap tidak hanya pria dan wanita

berbagai bangsa namun juga wanita dengan wanita. Bagian lesbi selalu kulewati

aku merasa jijik melihatnya. Sebaliknya bagian pria dengan pria selalu aku

nikmati lebih lama. Bahkan aku terkadang mengulangnya.

 

 

Tak terasa jam-jam membosankan menjadi jam-jam menggairahkan. Lapar pun tak

kurasa lagi yang ada aku menikmati rasa tegang di kontolku karena adegan-adegan

di atas.

 

Aku sudah lulus SMP namun nilaiku tidak memuaskan. Lagi-lagi ini juga jadi

salah satu tema pertengkaran Ibu dan Ayahku. Untuk masuk SMA favorit juga gagal

meskipun ibu sudah melobi istri kepala sekolah. Akhirnya aku hanya masuk SMEA.

Sama sekali bukan yang aku inginkan. Aku hobi di bidang teknologi tetapi

masuk SMEA. Tetapi ini lebih baik daripada tidak sekolah sama sekali. Agar aku

mau masuk SMEA Ayahku menggadaikan motornya untuk membelikanku komputer baru

dan sebuah laptop.

 

 

Kenakalanku bertambah-tambah. Sekarang memang aku tidak lagi meminjam VCD bokep

karena aku bisa mengunduhnya dari internet dengan gratis. Beberapa kali aku

ketahuan Ayah menonton dan Ayah sudah tidak bisa lagi melarangku. Bahkan sering

Ayah yang meminjamkan VCD bokep untuk kami tonton bersama-sama.

 

 

"Yaaahhh...." kataku manja pada Ayah suatu kali acara nonton bokep bersama.

 

 

Oh ya semua kulakukan saat ibu pergi. Dan tahulah kalian kalau ibuku semakin

sibuk. Apalagi beliau ikut partai politik yang mengangkat dirinya sebagai

sekjen untuk wilayah propinsi. Sepak terjang ibu membuat dia semakin sering

pergi bersama teman-temannya. Aku dan Ayah juga menikmati kalau ibu pergi.

 

 

Sore itu di rumah hanya berdua karena tadi siang Ibu berangkat ke Jakarta untuk

konsolidasi pemenangan pemilu. Aku senang dan berdebar-debar karena malam ini

aku akan tidur dengan Ayah menggantikan posisi Ibu jadi istri. Ayahku pun

tampak sangat ganteng sore itu. Ayah bukan seorang yang suka jajan kalau ibu

pergi. Tapi entah kalau di luar mungkin dia punya simpanan brondong.

 

 

Waktu adzan maghrib baru saja lewat. Rumah terasa sepi tanpa Ibu.

 

 

"Guh, Papa ngantuk. Nanti kalau mau tidur jangan lupa matikan lampu

dan periksa pintu" ujar Ayahku sambil berlalu ke kamar.

 

 

Aku menonton TV sebentar namun semua acara membuat aku bete saja. Tiba-tiba

terbersit  pikiran nakalku lebih baik memanfaatkan waktu untuk nonton

bokep sambil bermain kontol Ayah saja daripada ga ada kerjaan.

 

 

Setelah selesai memeriksa semua pintu dan mematikan lampu, aku masuk kamar

orang tuaku yang sudah remang-remang lampunya. Ayah tampaknya sudah nyenyak

terbawa ke alam mimpi.Tak lupa kubawa VCD bokep yang tadi siang dipinjamkan

Ayahku. Aku suka VCD pilihan Ayah, bintangnya bagus-bagus juga variasinya.

Segera saja kunyalakan DVD di kamar dan kumasukkan keping cakram tanpa

kuperiksa lagi judulnya.

 

 

Terdengar musik yang keras.. ah lalu kukecilkan dengan segera. Ayahku terbangun

kaget.

 

 

"Aaahh ck..." terdengar Ayahku kesal.

 

 

"Nonton Pakcek... " aku menawarinya tetapi tampaknya dia begitu

mengantuk.

 

 

Segera saja suara ah, ouh, yess, dan erangan-erangan kenikmatan lain menghiasi

frame demi frame film. Bintang filmnya lelaki semua, tumben. Biasa Ayah selalu

meminjam yang campuran, maksimalnya film bisex. Meskipun begitu kontolku tetap

tegang juga.

 

 

Lama kelamaan aku tidak tahan sendiri. Sedang di sampingku ada Pakcek aku yang

suka kontol juga. Kurendahkan badanku dan kutempelkan pipiku di dada Ayah.

Sambil menonton tanganku meraba-raba perut Ayah yang sixpack. Ada bulu-bulu

sexy di bawah pusar yang menunjukkan jalan untuk terus ke bawah. Tapi ada

sarung di sana... Ah rupanya kontol Ayahku juga sedang tegang.

 

 

"Kenapa Guh... ingin ya..." kata Ayahku tenang tanpa mengenyahkan

tanganku yang meremas-remas kontol besarnya.

 

 

"Kalau iya Papa?" kataku.

 

 

Kontol Ayah tiriku yang ganteng semakin mengeras. Terasa hangat dan

berdenyut-denyut. Sangat berasa karena Ayah tidak mengenakan celana dalam di

bawah sarung.

 

 

Aku mendekatkan bibirku ke bibir Pakcek dan segera kami berciuman. Sebuah

ciuman dalam dan sungguh nikmat ciuman Papa ini. Aku yakin ciuman dengan

wanita tak akan mengalahkan dahsyatnya ciuman Papa. Kutindih Ayahku sambil

aku tetap menikmati bibirnya. Lidahku bermain liar di dalam mulut Ayah. Lidah

Ayah juga tak kalah garang mengeksplorasi semua sudut mulutku. Nafas kami

memburu. Saat kami berpandangan kulihat nafsu membara yang mengatakan 'kamu

kekasihku malam ini Guh'.

 

 

Tangan Ayah menggerayangi punggungku hingga pantatku. 'Ayah aku juga

menginginkanmu malam ini' pikirku. Sangat hangat dan nyaman bergulat bersama

Ayahku. Cukup berciuman aku tidur di pelukan lengan Papa yang kekar.

 

 

"Guh, kamu tahu tidak, aku sayang kau..." ujarnya dengan

sungguh-sungguh.

 

 

"Sayang apa neh Papa?" tanyaku menggoda sambil sesekali mengelus

dada, perut, dan juga kontol Papa.

 

 

"Kamu ini ya anak Papa dan juga kekasih Papa. Pokoknya sayang

lah" ujarnya

 

 

Lalu kami ciuman lagi, ciuman yang tak mungkin dilakukan oleh Ayah dan anak

yang normal bahkan Ayah tiri sekalipun. Kupelorotkan sarung Ayah dan

kubelai-belai kontolnya yang sudah menegang. Besar 20 cm diameter 4,5 cm. Ini

bukan ukuran rekayasa karena ini cerita sungguhan. Ayahku juga bukan bule .

Kontol Ayah bentuknya bagus kepalanya besar. Ah pantas saja anusku

berdarah-darah dahulu.

 

 

Kulepas ciuman bibirnya aku turun menciumi kontol Ayahku.

 

 

"Sssshhh ooowwhh isap Guh..." Ayahku mengerang tak tahan.

 

 

Kumainkan lidahku di lubang kencingnya. Gerakan ini membuat Ayahku

menggelinjang. Lalu berputar-putar di kepala kontolnya yang sensitif. Lidahku

yang kuat dan basah menjelajah jalan panjang batang kontol Ayah hingga

pangkalnya. Kontol Ayah berurat-urat sexy seperti badan binaragawan saja. Ayah

sering menggunakannya mungkin.

 

 

"Oooooowwhhhhh...."

 

 

Kupermainkan dua bola kembar sambil kupegangi tongkat sakti Ayah. Jembut Ayah

lebat kini basah dengan liurku. Kulit bolanya juga berkilatan ditimpa cahaya

layar televisi yang berganti-ganti menayangkan adegan lucah.

 

 

"Fonndd ahhh kamu pandai sekali ooohhh"

 

 

Ayah mengerang keenakan saat lidahku mulai naik lagi ke batang atasnya. Hmmm

kugigit bekas sunatan Ayah dengan lembut. Kulingkarkan lidahku di daerah

sensitif penis yaitu di perbatasan batang dan kepala kontol. Ini membuat Ayahku

menahan kepalaku.

 

 

"Aaahhhh isap Guh aaahhh Pakcek tak tahan ooouuuhhhh...." Nafas

Ayahku benar-benar tidak teratur. Tersengal-sengal karena birahi.

 

 

Ayah benar-benar dikuasai nafsu birahi sekarang. Tak peduli kalau aku anak

tirinya. Kumainkan lagi lidahku di lubang kencingnya. Lendir bening meluber

asin rasanya di lidahku. Ayahku meracau karena nikmat tiada ampun. Kuhisap

saja. Aku berciuman dengan lubang kencing Ayah yang biasa mengobok-obok vagina

ibuku. Kucucup lubangnya. Ayahku bergelinjang.

 

 

"Setan! Isap Guh. Masukkan kontolku ke mulutmu!" Ayahku mengamuk

karena tak tahan kupermainkan lagi. Kali ini dia benar-benar marah.

 

 

Aku senang bisa membuat Ayah belingsatan seperti ini. Aku tersenyum. Namun tak

mau membuat dia menderita birahi, kumasukkan batang kontol yang besar itu

melalui bibirku yang rapat tapi lembut.

 

 

"Oooouuuuhhhhhhhh..... shhhhh... Aaawwww.."

 

 

Batangnya yang keras terasa berdenyut-denyut di antara bibirku. Hangat sekali.

Kumasuk dan keluarkan dari mulutku. Enak sekali rasanya. Clop clop clop

suaranya... Meski kucoba memasukkan sedalam mungkin, namun bibirku tidak mampu

menyentuh pangkal. Terlalu panjang buat  tenggorokanku.

 

 

"Aaahhh enak sekaali Fonnnd..." erangnya menikmati servisku.

 

 

Kulakukan cukup lama sampai bibirku mulai terasa baal. Kulepaskan kontol Ayah

yang merah berkilat basah lalu aku pindah untuk menindih dan menikmati bibir

Ayahku. Kuhisap dan kusesap bibir bawah Ayah.

 

 

"Papa, gantian isap punyaku.." pintaku.

 

 

Ayah menidurkanku lalu menciumiku dengan lembut dahi dan pipiku. Lalu dada dan

turun ke perutku. Geli rasanya tapi enak. Kutahan kepala Ayahku saat menjilati

pusarku. Aku terkikik kegelian. Lalu dia tiba di kontolku dan langsung

menghisapnya.

 

 

"Ooooaaahhhh ..."

 

 

Enak sekali. Bibir basah Ayah hangat menyelimuti batang kontolku yang

panjangnya 17cm. Kalian harus merasakan yang ini ... ini baru namanya sex.

Oooohhhhh sampai ubun-ubun rasanya air maniku mau nyemprot. Apalagi saat Ayah

mengisap sambil menarik mulutnya ke ujung kepala kontolku.

 

 

"Aaaaahhhhhh ..." aku menjerit tak tertahankan.

 

 

Kontolku benar-benar tegang. Kepala kontolku berdenyut-denyut menambah

sensitifitas rasa karena gesekan. Rasanya tambah besar saja kontolku keluar

masuk di antara bibir Ayah.

 

 

Benar-benar kenikmatan dunia yang tiada tara. Ayah melakukannya berulang-ulang.

Begini mungkin rasanya kalau bersetubuh dengan si sexy jupe hahaha.... Ayah

memujiku pintar tapi dia lebih pintar. Duniaku serasa melayang. Nyawaku terasa

ikut terhisap saja.

 

 

"Paaakcek akuuu aaaahhhhh.... " tak tertahankan lagi tiba-tiba saja

aku muncrat.

 

 

Crot crot crot...! Tak terkendali cairan lelaki muda ini muntah dalam mulut

Ayah berkali-kali. Banyak sekali. Sudah tiga hari tidak kukeluarkan.

 

 

Pakcek tidak melepas kontolku dari mulutnya. Padahal dia tahu aku sudah

memuntahkan maniku dalam mulutnya. Aku yakin itu banyak sekali. Ayah tetap

mengisap senjata saktiku. Seakan tak  ingin ada mani yang tersisa dari

batang kontolku. Bahkan dia membersihkan ujung kontolku dengan lidahnya.

 

 

Walaupun sudah keluar tapi kontolku tetap saja perkasa. Darah di batang tidak

mau beralih. Ayah menciumku. Rasa asin berpindah ke mulutku. Dan menguarlah bau

mani. Ya maniku sendiri.

 

 

Ayah mengambil kondom di laci samping tempat tidur. Lalu membuka dan siap

memakainya di kontol besarnya. Aku tahu Ayah akan menusuk anusku. Tapi aku

sekarang inginkan sebaliknya. Kurebut karet kondom dari tangan Ayah. Lalu

kupakaikan di kontolku sendiri.

 

 

"Terbalik itu, Guh" kata Ayahku yang melihat aku kesulitan

memakainya.

 

 

Kubalik dan kubuka gulungan kondom hingga terbuka semua di pangkal kontolku.

Bentuknya jadi agak aneh tapi seksi. Bau kondom tercium harum. Ini memang

pertama kali aku memakai kondom. Entah apa maksudnya aku juga tidak tahu. Aku

hanya ingin memakainya sebelum menusukkan kontolku ke lubang pembuangan.

 

 

"Papa tiduran saja.." kataku mendorong dadanya.

 

 

Ayah mengangkat pahanya.

 

 

"Tetapi hati-hati dan pelan io..." pesan Ayah.

 

 

Kini aku ingin memperkosa pantat Ayah. Membalas apa yang dia lakukan beberapa

bulan yang lalu. Kuarahkan batang kontolku yang tetap tegang ke arah lubang

kecil yang merah dan berkerut itu. Tampak kecil sekali dibandingkan batang

kontolku yang menginginkan pelampiasan. Ibarat tongkat satpam yang akan

ditusukkan lubang di gasper saja. Tampak tidak mungkin

 

 

Saat kutempelkan kepala kontolku disana, lubang itu belum juga terbuka. Ayah

menggenggam kontolku dan mengarahkan tepat di pusat kerutan lalu memaksa

menusukkan ke sana. Aku menuruti dan mendorongkan pantatku ke sana.

 

 

"Aaaaakkkkkkkhhhhh.... Guh pelan... sakiiitt" Ayahku yang perkasa

itu meringis menahan sakit.

 

 

Baru tahu dia rasanya. Aku paksa saja kontolku masuk sambil menikmati wajah

Ayah yang  meringis menahan kontolku. Sementara itu kontol Ayah mengkerut

dan lemas dengan segera. Mungkin saja ini efek dari menahan sakit tadi. Aku

yakin itu.

 

 

Keringat menetes dari dahi Ayah. Badannya memerah dan berkilat. Nafasnya

mendengus menahan sakit yang memusat di lubang anusnya. Kutarik kontolku lalu

kumasukkan lagi. Kutarik lagi lalu kumasukkan lagi.

 

 

"Oooowwwhhh aaahhhhh ahhhh" jerit Ayahku

 

 

Kalian ingin tahu rasanya? Dua kali lebih nikmat dari dihisap Ayah tadi. Lubang

anus Ayah begitu licin dan sempit. Memang hari ini aku beruntung menikmati dua

kenikmatan sex yang tiada tara anus dan oral. Hmm mungkin kalau kontol besarku

masuk vagina jupe akan 3 kali  lebih nikmat dari ini, aku cuma bisa

membayangkan.

 

 

"Ganti posisi Guh..." pakcek memerintahku lalu dia membungkuk.

 

 

Ah inilah posisi yang dinamakan doggy style. Lututnya menekuk badan depannya

membungkuk ditahan siku lengannya. Kutekuk lututku lalau kuarahkan kontolku di

lubang merah yang kembali mengkerut kecil. Ajaib! sekarang lebih mudah. Sekali

bless kontolku mendapat kenikmatan lubang anus Ayah.

 

 

Segera saja aku melakukan gerakan maju mundur. Otot pinggangku yang semakin

liat dan menampakkan otot-otot pria dewasa. Meski belum sejelas Ayah tapi

sixpacku juga sudah memperlihatkan semua modal seorang pria. Saat kontol maju

ada nikmat. Saat kontol mundur juga nikmat. Jadi yang ada hanya nikmat dari

nikmat. Semakin cepat aku masuk dan keluar, semakin nikmat.

 

 

Satu yang tak kuperhatikan adalah kontol Ayah menegang dan berayun-ayun

memukul-mukul perutnya sendiri. Ayah benar-benar tegang disodomi begini. Bahkan

tanpa tangan Ayah menyentuh kontolnya.

 

 

"Ahhh ahhh ahh..." Ayah rupanya sudah mendapat kenikmatan disodomi

begini.

 

 

Setengah jam berlalu.

 

 

"Foonnnd Ayah hampir niiihhhh...." erang Ayah

 

 

"Terus Fonnnndd lebih cepat lagiiiihhhh...."

 

 

Kupercepat gerakanku. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat. Dari rambut

kepalaku pun menetes keringat. Seperti sehabis main bola saja. Kami memang main

bola, namanya bola sodok. Bola kami menyodok tongkat yaitu kontol kami.

 

 

Aku hampir saja orgasme saat Ayah melepaskan diri dari kontolku. Ayah lalu

tiduran dan mulai mengocok kontolnya. Crot crot crot...! Sungguh jauh

muncratnya. Bahkan menempel di dinding belakang kasur. Muka Ayah juga

terkena maninya, namun paling banyak ada di dada dan perutnya.

 

 

Kubuka kondomku, kukocok kontolku di atas dada Ayahku. Tak lama maniku dan mani

Ayah bercampur jadi satu di dada dan perut Ayah.

 

 

"Ooooohhhhhhhh..." erangku menikmati orgasme kedua.

 

 

Ayah mengambil sarungnya dan membersihkan mani kami. Lalu Ayah menciumiku pipi

dan dahiku.

 

 

"Ayah suka ini. Ayah sayang kamu Guh..."

 

 

Lalu Ayahku pergi ke kamar mandi. Tanpa terasa aku terlelap tidur. Aku sadar

ketika Ayah membangunkanku. Ayah masih telanjang tanpa risih di hadapanku.

 

 

"Guh, lagi yuk... minum ini dulu... Ayah buatkan jamu biar kamu

kuat" ujar Ayah menyodorkan cangkir putih.

 

 

Aku dicium Ayah lagi sebelum sempat meminumnya. Ah Ayahku kekasihku memang. Jam

sudah menunjukkan jam 00.30 pagi. Tak mau sia-siakan waktu rupanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar