Senin, 28 Januari 2013

Kontol-kontol tukang becak

Aku anak semata wayang dari keluarga keturunan cina, masa kecilku sebenarnya sangat bahagia. Walau kesPrimahan datang tiba-tiba. Ketika usiaku 9 tahun, ayahku meninggal karena sakit. Tinggal ibu yang kemudian merawatku. Selain itu, ibu jadi sendirian mengelola toko bangunan sepeninggalan ayah.

Secara fisik, aku boleh dibilang sempurna, wajah ku tampan khas keturunan cina. Tak sPrimakit orang yang memujiku. Ketika berusia 10 tahun, aku ikut klub bela diri wushu di kotaku. Fisiku yang memang lebih besar dibanding anak lain, menjadi keliatan lebih bagus saat aku mulai ikut klub tersebut.

Aku berkembang sebagai manusia normal pada umunya, walau sosok ayah tak lagi ada untuku. Paman, adik ibuku, biasanya yang kadang menggantikan ayah. Ibuku memang dekat dengan keluarga paman. Pamanku seorang ahli bangunan, beliau tak jarang mengambil barang dari toko ibuku. Kerja sama itu memang telah dirintis semenjak ayahku ada. Selain beliau kake nenek dari ibu juga sangat dekat, begitu juga dengan keluarga ayah, hanya saja dengan mereka aku jarang ketemu karena berada diluar kota.

Di akhir kelas 6 aku mengalami mimpi basah, usiaku saat itu padahal baru jalan 11 tahun lebih. Lambat laun hal itulah yang menjadi penggangu fikiranku. Perubahan fisik yang datang perlahan diusiaku yang masih sangat belia, membuat aku menjadi galau. Tak ada tempat untuk bertanya. Kepada ibu, aku sama sekali tidak bisa bertanya, karena beliau perempuan. Selain itu,aku sering gusar melihat alat vitalku. Ukuranya menurutku terlalu kecil. Bahkan dibanding temanku yang mempunyai badan lebih kecil dariku. Meski secara fisik luar aku boleh dibilang tak kurang satu apapun.

Saat kelas 6 SD, tak sengaja aku melihat Rohim, salah satu pegawai ibu, ketika buang air kecil. Pria hitam berbadan sPrimakit kurus itu membuatku iri. Ukuran alat vitalnya sungguh luar biasa. Jauh sekali dibanding aku, walau kulihat tinngi badanya hampir sama meski usianya jauh diatas aku. Hal kecil itulah yang kadang mengangguku, tapi akhirnya aku berusaha tak begitu peduli lagi.

Sampai akhirnya,saat aku diakhir kelas satu smp,ibuku membangun bagian belakang rumahku. Sekaligus memperbaiki kamar ibu yang sudah rusak. Ibu meminta bantuan paman. Diantara pegawai paman, ada satu orang, sebut saja Aping, pemuda berusia sekitar 20tahunan, yang kemudian menginap ditempatku. Sebelumnya,aku memang sudah mengenal dia, walau tidak begitu akrab. Beliau awalnya diminta menjaga saat kami tidak ada, tapi kemudian daripada pulang jauh, ibu menyuruhnya untuk tidur di rumah saja. Pemuda berbadan kekar itu pembawaanya tak banyak bicara.

Hanya senyum yang selalu menghias wajahnya. Tapi tiap hari ketika dia ada dirumah, aku selalu bertegur sapa, bahkan ketika sore hari ibu belum juga pulang, dan si mbo yang bekerja sudah pulang ke rumah. Kami kadang ngobrol kesana kemari. Bahkan pembicaraan kita kadang menjurus ke hal-hal yang berbau porno. Dari obrolan,aku jadi tahu,bahwa terkadang Aping juga suka minum2.

Dipertengahan perbaikan rumah, ibu mendapat kabar nenek dari ayah sakit. Karena aku belum libur, Ibu asalnya menyuruhku tidur di tempat paman, aku setuju, tapi setelah ibu pergi. Aku merasa malas. Akhirnya aku tak jadi ke rumah paman.

Sampai kemudian, hari itu hari sabtu,saat semua pegawai sudah pulang. Matahari sudah terbenam. Kulihat Aping beres2 tas. “mau kemana mas?" kataku. “besok kan libur, aku mau ke tempat teman dulu ya, kalau bisa nanti malam pulang, tapi kayaknya besok” katanya.

”kamu nginap dipaman kamu aja”katanya lagi. “ya, malas mas, mang mau apa mas” kataku. ”mau ini, mau nyetel bokep” katanya. ”punya siapa mas?" tanyaku.

“Rif, tadi kasih pinjam” katanya menyebut anak yang kerja ditempatku juga. ”liat mas” kataku.

Mas Aping mengambil tas ranselnya,dia kemudian mengeluarkan 3 keping vcd bergambar menantang. ”mas setel disini aja” kataku. “ya,gimana, mas dah janji ma temen kemarin” katanya.

“mas juga mau ini” kata dia memperlihatkan botol minuman. “gpp, mas disini aja, besok kan gak da siapa2 ini” kataku. Akhirnya entah,Apingun setuju untuk tidak pergi. Kami akhirnya makan dulu setelah yakin mengunci semua pintu. Selesai makan, aku langsung membawa mas Aping ke kamarku, sambil membawa vcd player.

Film pun diputar, adegan demi adegan keluar, saat itu, aku malah mengingatkan mas Aping tentang minumanya. “gpp mas, asal jangan muntah” kataku. “gak kok, mas minum dikit aja buat ngangetin, jarang sampi muntah2" katanya.

Seiring film diputar,kami hany diam. ”mas enak gak minumanya” kataku. “gak, pahit, coba aja” katanya. ”biasanya kalau minum, suka nambah tegang” katanya. “mas sih” kataku.

Aku kemudian mencicipinya, dan benar pahit, tapi badanku merasa hangat. “mas tegang dong?" tanyaku. “dari tadi, gak kuat nih” katanya.

“mana liat?" kataku.

Tanpa malu Aping langsung menurunkan sPrimakit celana trainingnya. Benda hitam yang tak begitu besar tapi sudah tegang itu nongol. ”bucatin aja mas” kataku. ”gak ah malu” katanya.

“kamu liat” katanya.

Aku asalnya malu, tapi mas Aping menarik boxerku. “ih merah amat” katanya. “kecil ya mas” kataku. “gak lah, cukup,kamu kan masih numbuh” katanya. “paha kamu sexy banget ih, kayak cewe” kata mas Aping sambil tiba-tiba meraba-raba pahaku.

Aku hanya senyum. ”kamu bucatin juga, mau?" katanya. Entah,tiba-tiba aku mengangguk,akupun akhirnya mengambiil lotion. Kulihat mas Aping menegak minumanya saat melihat aku menurunkan celanaku, matanya terus menatapku, diapun menurunkan celanaya. Paha kekarnya nampak legam selegam kontolnya. Dia kemudian menyender di tembok, ditepi kasur. Tanganya kemudian menengadah saat aku menumpahkan lotion. Perlahan dia membaluri ujung kontolnya.

”sini, ini kebayakan” katanya. Akupun mengeser dudukku mendekat, perlahan dia membalurkan lotion itu ke kontolku. Sambil memijat-mijat kontolku pelan. Kontolku makin memerah. Tiba-tiba Aping meraba pahaku,

”mas gesek2 di sini ya” katanya, aku asalnya ragu, tapi entah, akhirnya aku menurut. Aping membalurkan lotion keselangkanganku, perlahan aku sPrimakit berbaring dan menyamping. Diapun berbaring menyamping. Kurasakan kontolnya bergerak diantara selankanganku. Kurasakan samar- samar bau minuman, dan mata Aping sudah sPrimakit merah. Sesaat kurasakan tanganya membaluri pantatku dengan lotion, sambil memijat, setelah itu kurasakan jarinya menyentuh lubang pantatku dan menggosoknya.

“mas, jangan dimasukin, takut sakit” kataku. “gpp, pelan-pelan, gak sakit kok” katanya. Perlahan kurasakan tanganya mulai menekan-nekan,dan lama-lama sepertinya semakin dalam, rasa geli menjalar, walau sesekali tak enak. Sesekali tangan lain yang telah masuk dibawah pinggangku, meremas- remas kontolku, dan itu mengurangi rasa sakit di pantatku. Sampai akhirnya kurasakan ujung benda tumpul menyentuh lubang pantatku.

”mas jangan" kataku. “gak, cuma di temple aja,g ak kan dimasukin kok” katanya, sesaat kurasakan jarinya telah mengangtikan kontolnya. Nafas mas Aping makin tak karuan, saat itu kurasakan kontolnya kembali berusaha menempel lebih dalam. “mas jangan” kataku.

Tapi entah saat itu Aping tidak berhenti,malah makin berusaha menekan, aku berusaha meronta, tapi malah dia makin menekan hingga tubuhku makin tertelungkup, perlahan benda itu makin dalam masuk kedalam lubang pantatku.

“mas" hanya itu yang keluar dari mulutku, sebelum akhirnya kurasakan kontol mas Aping, pelan tapi pasti, sudah maju mundur dipantatku. Dia terus melakukan itu,bahkan makin lama genjotanya makin kencang.

”kamu tuh sexy, mas gak kuat nahannya” katanya sambil terus mengenjotku. Aku jadi teringat wanita difilm yang sedang kutonton. Sakit 

masih terasa walau lama-lama makin bercampur dengan rasa geli. ”mas udah ah, sakit” kataku. “sebentar lagi, tahan, gpp kok” katanya,dia terus menggengotku, satu tanganya kemudian berusaha meraba kontolku dan kemudian mengocoknya. Saat itu rasa mual diperutku perlahan hilang. Samapi akhirnya Aping mendekapku erat dan.

Ahh..ahh...ahhh desahnya, kurasakan hangat mengalir dilubang pantatku. Aping tak langsung mencabut kontolnya, dia kemudian mengocok kontolku, sambil sesekali menamcapkan lebih dalam lagi kontolnya, akhirnya akupun tak kuasa, setelah cairan bening yang terus keluar, akupun kemudian mengejang seiring dengan cairan kental keluat dari ujung kontolku. Perlahan kurasakan kontol Aping keluar dari pantatku. "aduh..aduh..enak kan” katanya.

Matanya kulihat makin merah, aku tahu itu akibat pengaruh minuman. Aku hanya terbaring saat Aping bergerak ke lantai, dan kemudian terlelap di karpet.

Aku terus memutar kaset. Perlahan rasa sakit hilang. Entah,sesekali aku malah melihat kearah Aping. Berharap dia bangun. Tapi hingga pagi hari,kulihat dia tetap tidur dikarpet itu. Saat bangun, dia keliatan diam sekali. Bahkan sepertinya tak mau menatapku. Tapi akhirnya dia mengajaku bicara.

"maaf semalam ya,mas ga sadar” katanya. Aku hanya diam. Sejak itu dia jadi menghindariku. Bahkan hingga rumahku selesai diperbaiki,d ia tak pernah menyapaku. Hanya senyum jika kebetulan beretemu.

Sejak peristiwa itu,aku jadi selalu teringat akan kelakuan Aping. Bahkan kadang aku berharap mengulanginya. Sesekali jika birahiku tak tertahankan, aku melakukan onani. Bahkan kadang, aku sengaja menusuk-nusukan jariku ke lubang kemaluanku. Sesekali jika main kerumah paman, aku kadang melihat Aping, tapi aku tak berani menyapanya. Hanya senyum yang biasa kami lakukan. Kira-kira 4 bulan setelah peristiwa pertama. Aku akhirnya memberanikan diri menyapa Aping, saat itu aku sedang bermain ke rumah pamanku.

“mas, pinjam kasetnya dong” kataku. “ada sih, tapi di temen, nanti dipinjamin” katanya. “mang mau nyetel dimana, kan ada si mbok” kata Aping. “hari minggu si mbok sekarang datanya suka siang” kataku. “oh, ya dah, nanti dipinjamin” katanya. Entah setelah bercakap-cakap, Aping akhirnya setuju mengantarkanya kerumahku hari minggu pagi.

Akhirnya setelah ibuku berangkat ke toko sekitar jam 8, tak lama setelah itu Aping datang memakai motor. Asalnya dia akan terus pulang. “mas,tunggu aja, nanti langsung bawa aja lagi, aku gak berani simpan” kataku.

Dia akhirnya setuju. Di tengah rumahku, akupun memutar kaset yang dibawa Aping. Kami hanya diam ketika adegan-demi adegan berjalan, bahkan ketika keping ke dua selesai dan berganti judul baru. Aping sesekali hanya meliriku dan senyum. Akhirnya aku beranikan diri bertanya.

”mas bangun gak?" kataku. “ya bangunlah, dari tadi"katanya sambil melirik, aku juga,jawabku. ”keluarin yuk” kataku, Aping melirik dan tersenyum.

”sok aja kamu” katanya. “barengan” kataku.

Aping akhirnya setuju, perlahan dia membuka celana jeansnya,akupun menurunkan celana pendeku. Saat itu, dia langsung merba-raba pahaku, akupun dengan berani meraba-raba kontol Aping yang sudah mengeras. Sesaat aku beranjak dan mengambil lotion dikamar ibu. Setelah itu, kubasuhkan sPrimakit ditanganku, lalu aku mengocok pelan kontol Aping. Perlahan Apingun mulai meraba-raba kontolku. Tapi kemudian dia menundukan mukanya dan mencium pantatku.

"Duh, putih banget, sexy" katanya, aku hanya senyum. Aku hanya senyum dan membiarkanya. Tapi perlahan ciuman Aping mengarah kelubang pantatku, aku akhirnya sPrimakit menunduk. Tanpa geli, kurasakan lidahnya menjilat lubang pantatku. Kurasakan geli yang amat sangat. Hingga badanku makin mendekati sofa yang kami duduki.

”naik aja, lurusin kakinya” kata Aping. Aku akhirnya menaikkan kakiku dan tertelungkup diatas sofa. Aping berjongkok disamping sofa, tepat disebelah pantatku. Dia kemudian melanjutkan lagi jilatanya,bahkan denag membuka bibir pantaku lebar-lebar. Setelah itu dia menuyuruhku berbalik dan kemudian menganjalakan bantal kecil di pantatku. Akhirnya dia kembali menjilati pantatku. Sambil akhirnya tanganya mengambil lotion dan membalurkanya di jarinnya, lalu perlahan dia mulai mengusap-usap lubang pantatku denga jari telunjuknya.

“sakit ga?" katanya, aku mengeleng, Aping melakukanya pelan-pelan. ”mau dimasukin ini gak?" kata Aping sambil mengusap-usap kontolnya. Aku menganguk ”tapi pelan2 ya mas” kataku.

Kulihat muka Aping langsung berubah sumeringah,perlahan dia mulai bergerak naik keatas sofa, setelah melumuri kontolnya dengan lotion, dia mulai merapatkan ujung kontolnya ke lubang pantatku, Aping melakukanya hati-hati sekali, kadang dia berhenti ketika melihat wajahku meringis, aku sendiri merasa sakit, tapi entah, aku ingin sesuatu yang pernah aku rasakan dulu. Lama-lama kontol Aping makin dalam dan makin lancer masuk ke lubang pantatku. Akhirnya perlahan-lahan, dia mulai memaju mundurkan kontolnya.

Kupenjamkan mataku sambil kurasakan persaan yang campur aduk. Antara mual, geli, gatal, nikmat, semua bercampur jadi satu, hingga akhirnya hanya desahan kecil yang bisa keluar dari mulutku. Akhirnya kubuka mataku, kulihat ekpresi wajah Aping yang penuh kegembiraan, perlahan aku memegang pergelangan tangan Aping yang nampak mengeluarkan otot2nya. Sesekali aku mengusap dadanya yang penuh peluh. Semua kuperhatikan dengan sangat seksama, sungguh, otot2 kelam Aping, memberiku kekaguman lain. Perlahan Aping merpatakan tubuhnya, kemudian dia mengulum teteku. Tindakanya yang tiba-tiba, menyentakan dadaku, hingga jantungku berdegup makin kencang. Akhirnya kupeluk badan Aping kuat-kuat, sambil kurasakan otot2nya yang keras.

Gesekan perut Aping dikontolku memberikan kenikmatan luar biasa, cairan bening kurasakan terus mengalir dari ujung kontolku, sampai akhirnya kudekap Aping erat-erat supaya perutnya menekan kontolku yang memberiku nikmat, sampai akhirnya aku tak kuasa dan kontolku akhirnya berdenyut kencang hingga cairan kental kurasakan telah tumpah dari 

kontolku. Saat itu gerakan Aping makin cepat samapi akhirnya dia pun mengejang-ngejang diatas perutku. Saat itu cairan mulai terasa membanjiri pantatku.

”duh, nikmat, nikmat” desah Aping sambil terus menekankan kontolnya walau kurasa kontol Aping mulai mengecil. Aku terus mendekap Aping, pelunya yang banyak membanjiri tubuhku. Perlahan Aping bangkit dari atas tubuhku. Aku meraba pantatku dan kurasakan basah. Aping mengelapnya dengan celana dalamku.

“nanti jongkok aja, kayak mau buang air besar, kalau mau mani yang didalam keluar” katanya, aku mengangguk. Aku langsung mengenakan boxerku, begitu juga dengan Aping. Setelah itu, aku langsung merapikan kaset dan mengembalikanya ke Aping.

“nanti kalau mau pinjam2 lagi boleh gak?" kataku. “boleh, nanti kalau ada yang baru aku kasih tahu” kata Aping.

Tak sampai sebulan, Aping memberi tahuku kalau ada kaset baru, akhirnya kami mengulang perbuatan kami, kali ini aku diajak kerumahnya. Tentu saja dengan sPrimakit berbohong kepada ibuku. Sore itu, dengan leluasa Aping kembali mengaguliku dengan penuh nafsu. Sesekali kami mengulang, walau tidak sering karena Aping harus bekerja. Sampai akhirnya suatu hari kami bercakap.

”tahu Prima kan pegawai paman kamu juga” katanya. Aku mengangguk ”dia juga sama, suka cewek ,suka pantat juga” katanya. ”masa?" kataku. “iya” katanya.

”yang bener mas” kataku. “iya, tititnya juga gede” katanya. “mas ngasih tahu ya tentang aku” kataku. “gak, sumpah, tapi dia pernah bilang gini, gila paha kamu putih amat” kata mas Aping. “kalau kamu kasih, pasti dia kaget” katanya.

Entah akhirnya aku setuju. Atas saran Aping. Aping mau datang kerumah Prima, bawa temen, pinjam kaset, tapi Aping tak memberi tahu Prima, bahwa temanya itu aku. Supaya dia kaget, katanya. Benar saja, saat kami tiba dirumahnya, Prima seolah tak percaya. Dia bahkan grogi saat memberiku minum. Pria berusia sekitar 27 tahun itu keliatan gugup sekali.

“dah nontonya aja disini, nanti mas Prima yang antar kamu pulang” kata Aping, mas Prima setuju, walau wajahnya masih kelihatan bingung. Akhirnya Aping pergi, kamipun menonton tv. Kulihat mas Prima sopan dan tidak bertanya macam2, hanya matanya sesekali melihat kearah pahaku. Sampi akhirnya dia kaget dengan pertanyaanku.

“mas, katanya punya mas gede ya?" kataku. mas Prima sempat bengong, sampi akhirnya tersenyum. “ah, kata siapa, biasa aja” katanya. ”kata Aping” kataku.

”mas liat dong” kataku. ”liat apa?" katanya. ”liat kontolnya” akhirnya dengan sPrimakit rayuan, mas Prima mau memperlihatkan kontolnya setelah aku setuju meperlihatkan kontolku juga. Dia diam saja ketika aku mengusap-usapnya.

“mas disini aman gak, takut ada orang” kataku. ”gpp, aman, dijamin” katanya. “atau mau dikamar aja” katanya, aku menganguk, kulihat wajahnya seperti kaget. Tapi kemudian kamipun masuk kekamarnya. Awalnya mas Prima hanya mengesek-gesekan kontolnya dipahaku, persis seperti Aping dulu, tapi akhirnya aku memintanya untuk diamsukan kedalam pantatku pelan- pelan.

”kamu serius” kata mas Prima, aku menganguk. Akhirnya denga penuh birahi mas Prima memasukan kontolnya kepantatku. Tangan-tangan kekarnya terus mendekap tubuhku erat sampai akhirnya air kenikmatan tumpah dari ujung kontolnya.

Sejak itu sesekali mas Prima kujadikan pelampiasan birahiku. Tapi kelakuanku tidak hanya sampai disitu. Tukang becak yang mangkal didepan komplekku juga kadang menjadikan birahiku bergolak, salah satunya bang Rif. Lelaki berstatus duda berusia 30 tahun itu, bagiku memiliki keindahan luar biasa. Keringat dan otot2 yang keluar saat mengayuh becak, membuat bulu kuduku terkadang berdiri. Setelah mengenal Aping, bang Rif menjadi perhatianku. Bahkan, lebaran dan perayaan lain ibu kadang membagikan makanan, bang Rif selalu aku beri.

Sampai akhirnya, suatu hari dia mengantarku ke rumah. Seperti biasa,sesekali aku menyuruhnya masuk dan memberinya minum. ”si mbok kemana" katanya. “pulang kali. Eh bang, gak kesepian menduda” tanyaku. ”kesepian sih, tapi gimana lagi” katanya.

“trus kalau mau gituan gmana?" kataku. ”ya paling kekamar mandi” katanya tertawa. ”bang Rif kontolnya gede ya?" tanyaku. “ih, tahu dari mana?" katanya. ”kamarin, waktu kencing aku intip” kataku tertawa. ”walah, nanti gak ikut numpang kencing lagi ah” katanya.

Entahlah, kami akhirnya ngobrol ngalor ngidul, sampai ke hal porno, akhirnya saat aku meminta melihat kelaminya, dia setuju, bahkan ketika aku remas-remas dia hanya diam saja. Sampai akhirnya aku membisikan sesuatu yang membuatnya sPrimakit kaget.

”bang, masukin ke pantaku mau ga?" kataku. “ih, mana bisa” katanya. ”bisa, di coba” kataku. Entah akhirnya dia setuju, bahkan saat aku menyuruhnya mandi dulu, dia setuju. Sore itu akhirnya kerasakan kenikmatan kontol bang Rif, dia masih tak percaya apa yang terjadi, tapi kemudian dia tersenyum saat aku memberinya uang untuk rokok.

Sungguh, aku sendiri tak menyangka, waktu itu aku masih SMP, tapi kelakuanku sudah sangat tidak wajar bagi anak seusiaku. Tapi entah, dalam diriku selalu ada gejolak ketika melihat orang2 berkulit gelap dan berbadan kekar. Bahkan akhirnya, kontol Rohim pegawai ibu yang besar itupun akhirnya dapat aku nikmati setelah aku iming-imingi uang. Dan setelah itu, saat kontolnya aku hisap, dia tak pernah menolak walau tak diberi uang.

Dan petualanganku tak hanya sampai disitu, suatu hari, aku mendengar mas Prima punya kaset baru, aku minta diajak menonton. “jangan Jim, soalnya nontonya sama temen” kata mas Prima.

"gpp, nanti aku pulang sendiri” kataku. Akhirnya mas Prima setuju, dan saat aku tiba ditempat mas Prima, sudah ada dua kawan mas Prima, sesama kuli bangunan juga. Badan mereka tak kalah kekar dan gelap dibanding mas Prima. Awalnya mereka agak kikuk dengan kehadiranku. Tapi kemudian, film biru mencairkan suasana. Dan saat itu, mas Prima berkata.

“Jim tau gak, diantara kami siapa yang paling gede?" aku menggeleng. “tuh, dia sama teh botol aja gedean dia” katanya. “masa” kataku. “iya, liatin aja No” kata mas Prima.

“ora ah, malu” katanya. Tapi berkat bujukanku akhirnya Tarno mau memperlihatkanya, aku begitu terkesiap, Udin, teman mas Prima yang lain, akhirnya memperlihatkanya juga, walau tak sebesar yang lain, tapi masih besar dia dibanding aku. Dan entah, karena pengaruh film, atau minuman yang mereka teguk, dengan sPrimakit memaksa Tarno memintaku membuka celanaku, awalnya dia hanya ingin melihat kontolku. Tapi saat celana jeansku telah turun selutut, mereka sepertinya telah dirasuki birahi. Perlahan tak hanya Tarno, Udin juga malah meraba-raba pahaku, bahkan dengan bantuanya, Tarno dapat melepas semua celanaku. Mas Prima hanya tersenyum pura-pura tak peduli. Hingga akhirnya dia merangkulku juga saat udin menciumi dadaku.

Kejadian itu tak dapat aku kira, tapi perlahan aku hanya pasrah, ketika akhirnya mereka membopongku kedalam kamar setelah seluruh pakaianku mereka lucuti. Aku sPrimakit kewalahan, Udin yang nampaknya tak kuasa menahan gejolak, langsung menjilati lubang pantaku, dan kemudian mengarahkan kontolnya ke lubang pantatku setelah dia lumuri lotion. Tarno dengan paksa berusaha memasukan kontolnya kemulutku, yang akhirnya aku terima dan aku hisap dalam-dalam. Mas Prima menghisap putingku, sambil satu tanganya memegang jariku yang dia rapatkan dikontolnya.

Kupejamkam mataku dan kunikmatai semua perlakukan mereka. Saat kontol Udin mulai cepat maju mundur bahkan akhirnya terlepas setelah memuntahkan cairan kenikmatan, dengan penuh antusias, kuterima sodokan kontol mas Tarno kemudian, dan sungguh, aku tak menyangka, bahwa kontolnya bisa memberiku kenikmatan luar biasa hingga kepalaku seperti melayang diawan. Hentakan2 kerasnya membuatku terkulai tak berdaya didera rasa nikmat luar biasa. Akhirnya mas Prima yang terakhir memberiku sodokan kontolnya. Walau tak seenak sebelumnya, tapi tetap aku nikmati, kocokan tangan mas Tarno dikontolku,memberi nilai tambah,disaat kurakan kontol mas Prima sepertinya terlalu mudah untuk keluar masuk. Dan akhirnya berbarengan dengan muntahnya cairan kental dari kontol mas Prima, akupun menumpahkan cairan kenikmatan diatas perutku.

Tak teras hampir 2 jam aku dikamar bersama mereka, hari sudah hampir gelap, mereka berebutan ingin mengantarku pulang. Dan akhirnya aku setuju mas Tarno yang mengatarkanku pulang. Bukan tanpa alasan, karena setelah itu, aku berusaha menikmati kembali hentakan-hentakan kontol besarnya, dan dengan senang hati dia melakukanya.

Sejak itu,terkadang aku melayani banyak lelaki secara bersamaan, mereka adalah kuli2 yang aku kenal, baik pegawai paman, atau lainya. Tidak hanya itu, setiap tukang becak yang aku pakai jasanya, atau aku jumpai disekolah atau diempat latihan, aku berusaha mengakrabkan diri kepada mereka. Dengan begitu, aku bisa memuaskan keinginan birahiku terhadap

mereka.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar